Malang - Di sebuah sudut Desa Jombok, Kabupaten Malang, aroma gurih keripik jamur menjadi simbol harapan baru bagi pelaku usaha kecil yang ingin naik kelas di era digital.
Tim Pengabdian Masyarakat Tematik (PMT) Kelompok 12 dari Program Studi Akuntansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang melaksanakan program pemberdayaan UMKM bertajuk “Penguatan UMKM melalui Pencatatan Keuangan, Inovasi Kemasan, dan Strategi Pemasaran Digital”. Kegiatan ini berlangsung sejak 16 Juli hingga 13 Agustus 2026 di Dusun Songkorejo, Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Sasaran utama program adalah UMKM keripik jamur milik Ibu Kasiani, usaha rumahan yang memanfaatkan bahan baku lokal dan telah dikenal di lingkungan sekitar.
Program ini diawali dengan survei dan wawancara langsung untuk memahami kondisi usaha. Tim melakukan observasi lapangan guna menggali potensi sekaligus kendala yang dihadapi.
Hasilnya menunjukkan bahwa usaha keripik jamur tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang. Bahan baku mudah diperoleh, kualitas produk dinilai baik, dan cita rasanya khas. Namun, terdapat sejumlah tantangan klasik yang kerap dihadapi UMKM, Belum adanya pencatatan keuangan yang sistematisDesain kemasan yang masih sederhana, dan Strategi pemasaran yang terbatas pada penjualan langsung dan promosi dari mulut ke mulut
Kondisi ini membuat potensi pasar yang lebih luas belum tergarap secara optimal.
Salah satu fokus utama program adalah edukasi pembukuan sederhana bagi UMKM. Tim PMT menekankan pentingnya pencatatan keuangan sebagai fondasi pengelolaan usaha.
Materi yang diberikan mencakup cara mencatat modal awal, pemasukan penjualan, serta pengeluaran mulai dari pembelian jamur, tepung, minyak goreng, bumbu, kemasan, biaya transportasi, hingga biaya operasional lainnya. Pelaku usaha juga dibimbing menghitung laba dan rugi secara sederhana agar dapat memantau perkembangan bisnis secara berkala.
Langkah ini dinilai penting dalam meningkatkan literasi keuangan UMKM, sekaligus membantu pelaku usaha mengambil keputusan berbasis data.
Selain pembukuan, inovasi kemasan menjadi perhatian berikutnya. Sebelum pendampingan, produk keripik jamur dijual dengan kemasan polos dan informasi terbatas.
Tim kemudian merekomendasikan desain label yang lebih informatif, mencantumkan nama produk, logo usaha, komposisi, berat bersih, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, alamat produsen, serta nomor kontak.
Kemasan baru ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga memperkuat identitas merek dan nilai jual produk di pasar yang lebih kompetitif.
Dalam konteks persaingan UMKM pangan, kemasan kini bukan sekadar pelindung produk, melainkan alat pemasaran yang menentukan persepsi konsumen.
Menjawab tantangan era digital, tim juga memberikan pelatihan pemasaran digital UMKM. Ibu Kasiani diperkenalkan pada penggunaan WhatsApp Business sebagai sarana komunikasi pelanggan, serta media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok untuk promosi.
Pendampingan mencakup teknik dasar fotografi produk menggunakan telepon pintar, penyusunan caption promosi yang menarik, hingga strategi unggah konten secara konsisten.
Dengan pendekatan ini, UMKM keripik jamur diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, melampaui batas geografis Dusun Songkorejo.
Selama program berlangsung, Ibu Kasiani menunjukkan antusiasme tinggi dalam setiap sesi pelatihan. Ia aktif berdiskusi mengenai tantangan usaha yang dihadapi dan terlibat langsung dalam praktik pembukuan maupun pemasaran digital.
Ketua Tim PMT Kelompok 12 menyatakan bahwa pemberdayaan UMKM merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi desa. Menurutnya, pendampingan berkelanjutan akan membantu usaha kecil menjadi lebih mandiri, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki daya saing di pasar yang terus berkembang.
Program ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM lokal diharapkan mampu mengembangkan potensi desa menjadi produk unggulan yang berkelanjutan.
Program pemberdayaan UMKM oleh UNITRI Malang menunjukkan bagaimana pendampingan terarah, mulai dari pencatatan keuangan, inovasi kemasan, hingga pemasaran digital dapat memberikan dampak nyata bagi usaha kecil di pedesaan.
Bagi banyak UMKM di Indonesia, tantangan serupa masih menjadi hambatan utama untuk berkembang. Inisiatif seperti ini menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha lokal dapat menjadi katalis penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Tim Pengabdian Masyarakat Tematik (PMT) Kelompok 12 dari Program Studi Akuntansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang melaksanakan program pemberdayaan UMKM bertajuk “Penguatan UMKM melalui Pencatatan Keuangan, Inovasi Kemasan, dan Strategi Pemasaran Digital”. Kegiatan ini berlangsung sejak 16 Juli hingga 13 Agustus 2026 di Dusun Songkorejo, Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Sasaran utama program adalah UMKM keripik jamur milik Ibu Kasiani, usaha rumahan yang memanfaatkan bahan baku lokal dan telah dikenal di lingkungan sekitar.
Program ini diawali dengan survei dan wawancara langsung untuk memahami kondisi usaha. Tim melakukan observasi lapangan guna menggali potensi sekaligus kendala yang dihadapi.
Hasilnya menunjukkan bahwa usaha keripik jamur tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang. Bahan baku mudah diperoleh, kualitas produk dinilai baik, dan cita rasanya khas. Namun, terdapat sejumlah tantangan klasik yang kerap dihadapi UMKM, Belum adanya pencatatan keuangan yang sistematisDesain kemasan yang masih sederhana, dan Strategi pemasaran yang terbatas pada penjualan langsung dan promosi dari mulut ke mulut
Kondisi ini membuat potensi pasar yang lebih luas belum tergarap secara optimal.
Salah satu fokus utama program adalah edukasi pembukuan sederhana bagi UMKM. Tim PMT menekankan pentingnya pencatatan keuangan sebagai fondasi pengelolaan usaha.
Materi yang diberikan mencakup cara mencatat modal awal, pemasukan penjualan, serta pengeluaran mulai dari pembelian jamur, tepung, minyak goreng, bumbu, kemasan, biaya transportasi, hingga biaya operasional lainnya. Pelaku usaha juga dibimbing menghitung laba dan rugi secara sederhana agar dapat memantau perkembangan bisnis secara berkala.
Langkah ini dinilai penting dalam meningkatkan literasi keuangan UMKM, sekaligus membantu pelaku usaha mengambil keputusan berbasis data.
Selain pembukuan, inovasi kemasan menjadi perhatian berikutnya. Sebelum pendampingan, produk keripik jamur dijual dengan kemasan polos dan informasi terbatas.
Tim kemudian merekomendasikan desain label yang lebih informatif, mencantumkan nama produk, logo usaha, komposisi, berat bersih, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, alamat produsen, serta nomor kontak.
Kemasan baru ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga memperkuat identitas merek dan nilai jual produk di pasar yang lebih kompetitif.
Dalam konteks persaingan UMKM pangan, kemasan kini bukan sekadar pelindung produk, melainkan alat pemasaran yang menentukan persepsi konsumen.
Menjawab tantangan era digital, tim juga memberikan pelatihan pemasaran digital UMKM. Ibu Kasiani diperkenalkan pada penggunaan WhatsApp Business sebagai sarana komunikasi pelanggan, serta media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok untuk promosi.
Pendampingan mencakup teknik dasar fotografi produk menggunakan telepon pintar, penyusunan caption promosi yang menarik, hingga strategi unggah konten secara konsisten.
Dengan pendekatan ini, UMKM keripik jamur diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, melampaui batas geografis Dusun Songkorejo.
Selama program berlangsung, Ibu Kasiani menunjukkan antusiasme tinggi dalam setiap sesi pelatihan. Ia aktif berdiskusi mengenai tantangan usaha yang dihadapi dan terlibat langsung dalam praktik pembukuan maupun pemasaran digital.
Ketua Tim PMT Kelompok 12 menyatakan bahwa pemberdayaan UMKM merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi desa. Menurutnya, pendampingan berkelanjutan akan membantu usaha kecil menjadi lebih mandiri, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki daya saing di pasar yang terus berkembang.
Program ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM lokal diharapkan mampu mengembangkan potensi desa menjadi produk unggulan yang berkelanjutan.
Program pemberdayaan UMKM oleh UNITRI Malang menunjukkan bagaimana pendampingan terarah, mulai dari pencatatan keuangan, inovasi kemasan, hingga pemasaran digital dapat memberikan dampak nyata bagi usaha kecil di pedesaan.
Bagi banyak UMKM di Indonesia, tantangan serupa masih menjadi hambatan utama untuk berkembang. Inisiatif seperti ini menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha lokal dapat menjadi katalis penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
