Iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Agus Salim Paham Konteks Secara Utuh

Dodi Adrian Febriansyah
24 Jun 2026, 16:50 WIB Last Updated 2026-06-24T09:50:53Z
iklan

Foto: Agus Salim (Doc. Istimewa)
SUARAPERUBAHAN.COM, OPINI - Publik dibuat heboh dengan video sekitar tahun 1943 an pada masa kolonial Jepang, yang menampilkan para petinggi penjajah Jepang dan para pejuang bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta dll sedang meminum Sake/miras (dalam cangkir kecil) dalam sebuah acara yang digagas oleh pemerintah kolonial.


Pro kontra terjadi karena para elit pejuang waktu itu mentolerir dalam minuman sake tersebut, tidak sedikit yang menghujat dari mereka yang mengataken haram minuman sake tersebut.


Secara hukum tektual menurut ajaran Islam sampai hari kiamat minuman keras tetap saja haram tidak bisa menjadi halal, namun mari kita liat konteks seutuhnya waktu itu.


Penjajah Jepang yang mencitrakan diri sebagai saudara tua Indonesia dengan janji gula-gulanya akan mengantarken bangsa Indonesia kepada kemerdekaan dan melepaskan kesengsaraan yang selama ini mereka dapatkan dari kolonial Belanda.


Namun faktanya walaupun hanya menduduki Indonesia kurang dari 4 tahun namun saya rusaknya tak kalah besar.


Ratusan ribu bahkan lebih rakyat meninggal dunia, para elitnya dipaksa menjadi alat propaganda jepang kita sebut saja Bung Karno, bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansyur yang pada kemudian hari lebih dikenal dengan "4 Serangkai" mereka dipaksa menjadi alat untuk menarik simpati rakyat.


Bahkan KH Mas Mansyur terpaksa menanggalkan statusnya sebagai Ketua PP Muhammadiyah pada masa kolonial Jepang ini, sampai berakhir beliau sakit-sakitan dan meninggal dunia pada tahun 1946.


Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari di penjara, puncaknya Rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam harus melakukan ritual hormat kepada Matahari pada setiap paginya.


Penolakan keraspun terjadi namun intimidasi dari pihak kolonialpun tak kalah kerasnya, maka kita bisa melihat "Flexibilitas Fiqh" kenapa para bapak pendiri bangsa tersebut meminum Sake/miras pada waktu itu.


Mari kita melihat konteks waktu itu secara utuh bukan sepotong-sepotong yang mengedepanken sudut pandang subjektiftas pribadi.


Diplomasi Sang Polymant


Namun ada 1 Tokoh pada video tersebut yang ikut berdiri menampilkan gerakan tangan seakan-akan membawa cangkir namun dia sama sekali tidak ikut meminumnya, beliau adalah Hadji Agus Salim.


The Grand Old Man ini beda dan memang pada level yang berbeda pula, beliau orang yang merasakan Luasnya pendidikan barat dan dalamnya pendidikan timurdan semua itu dibalut dengan kecerdasan otak dan kecepatan dalam berfikir, dalam konteks video ini beliau tetap bisa mengikuti acara kolonial Jepang tersebut sebagai alat untuk berdiplomasi untuk memperjuangkan nasib bangsa tanpa mengorbankan prinsip yang dia yakini kebenarannya.


Banyak pihak yang mengataken bahwa sosok Hadji Agus Salim ini adalah seorang "Poliglot" orang yang menguasai banyak bahasa dan memang seperti itulah beliau.


Namun masih banyak yang belum mengetahui beliau bukan hanya poligot namun juga Polymant!!! Orang yang menguasai berbagai banyak skill sekaligus.


Dalam video diatas kita melihat kelihaiannya dalam berdiplomasi dan membaca keadaan.


Benar sekali mereka yang mengataken: 

قف دون رأيك في الحياة مجاهدا   *  إن الحياة عقيدة وجهاد


"Berdiri diatas keyakinanmu dan berjuanglah, karena hidup adalah tentang Keyakinan dan Perjuangan"


Pada akhirnya marilah kita meneladani perjuangan mereka tanpa mengorek-ngorek kekhilafan mereka, semoga Allah SWT mengampuni dosa para pejuang dan kita semua, Aminnn.


Penulis : M. Ali 

(dy/daf)

Iklan

iklan