![]() |
| Foto: Pribadi |
"Dia tidak fokus."
"Dia mulai kehilangan arah."
Cibiran-cibiran tak kasat mata itulah yang sempat membayangi perjalanan Boyka Kafiar. Putra asli Biak kelahiran 23 Januari 1999 ini seringkali dipandang sebelah mata karena keputusannya untuk tidak diam di satu zona nyaman. Padahal, bagi Boyka, perpindahan itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti versatilitas yang dituntut oleh organisasi yang jeli melihat bakat alamnya.
Arang yang Menjadi Intan
Memulai karir di tahun 2017 dari ring tinju di Banten, Boyka sebenarnya sudah nyaman dengan sabuk juara Porda. Namun, tantangan datang memanggil pada 2019. Ia diminta banting setir ke Muaythai.
Banyak yang meragukan apakah tangan yang biasa memukul itu bisa lincah melancarkan sikutan dan tendangan. Boyka menjawab keraguan itu di PON 2019 Sumatera Barat. Mewakili tuan rumah, ia bertarung kesetanan hingga menembus final.
Namun, ujian mental terberat justru datang di partai puncak. Boyka harus puas dengan medali perak, bukan karena kalah kemampuan, melainkan—seperti yang dirasakannya dan tim—akibat ketidakadilan keputusan wasit.
"Rasanya sakit ketika keringat dan darah kita tidak dihargai dengan jujur. Orang mungkin berpikir mental saya hancur saat itu," ungkap Boyka.
Momen itu bisa saja mematahkan arangnya. Bagi mereka yang meremehkan, kekalahan (atau kecurangan) itu seolah menjadi pembenaran bahwa Boyka "belum cukup matang".
Pembuktian Sang Multi-Talenta
Tapi Boyka menolak menyerah pada naskah kegagalan. Ia bangkit, meninggalkan kenangan pahit, dan menerima pinangan KONI Kota Bekasi pada 2020. Ia kembali menempa diri, kali ini mempersiapkan transisi yang lebih gila: MMA (Mixed Martial Arts).
Keraguan orang kembali muncul. Bisakah petinju bergaya "stand-up fighting" bertahan dalam pertarungan "ground" yang rumit?
Tahun 2023 dan 2024 menjadi panggung pembuktian yang sunyi namun mematikan. Boyka menyapu bersih Juara 1 Kejurnas MMA Piala KASAU 2023 dan Kejurnas MMA 2024. Puncaknya, di PON XXI Aceh-Sumut 2024, Boyka yang kini membawa panji Jawa Barat berdiri gagah menyumbangkan medali perunggu di cabor IBCA MMA.
Sumbangsihnya bukan sekadar medali; poin yang ia raih menjadi salah satu pilar yang mengukuhkan Jawa Barat sebagai Juara Umum PON 2024.
Lebih dari Sekadar Atlet
Rekornya di ajang profesional seperti "One Pride" (Baku Hantam, Byon Tryout) yang penuh kemenangan KO, semakin menegaskan satu hal: Boyka bukan atlet yang "bingung memilih jalan". Ia adalah senjata serba bisa.
Kini, menjelang 2025, ia bersiap menaklukkan tantangan baru di Kickboxing. Suara-suara yang dulu meremehkannya kini perlahan berubah menjadi tepuk tangan kekaguman.
Dari Biak yang jauh, Boyka Kafiar telah mengajarkan satu filosofi penting: Jangan biarkan definisi orang lain membatasi potensimu. Jika mereka meremehkan mimpimu karena terlalu banyak berubah, buktikan bahwa kamu bisa menjadi juara di setiap perubahan itu.[Dody]
.png)
