Iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Valentine's Day: Panggung Kebohongan dan Akal yang Dininabobokan

Dodi Adrian Febriansyah
15 Feb 2026, 00:16 WIB Last Updated 2026-02-14T17:16:36Z
iklan

Sumber: Generate Gemini Ai 

SUARAPERUBAHAN.COM, OPINI - 
Seringkali persoalan asmara jika diejawantahkan tidak pernah usai di kehidupan manusia, dari konsep pendekatan hingga sampai sabda sakral dilontarkan. Apa indahnya kalimat “aku mencintaimu” itu? Tidak pula seseorang menjadi super hero dan keren hanya karena perasaannya diterima bersamaan kata itu dilontarkan dengan tangan kanan memegang bunga dan tangan kiri memegang cokelat. Sangat ironis sekali padahal sabda sederhana seolah-olah menjadi sakral dan perlu diadain perayaan rutin pada tiap tanggal 14 Februari sebagai momentum kewajiban moral antar pasangan.


Jika melihat sejarahnya perayaan itu justu sangat tragis sekali dan mengaitkan dua tragedi besar, yaitu kisah pendeta yang bernama Valentine yang dihukumi pancung sebab menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang dikenal otoriter dan kejam. Pada saat yang sama di tanggal 15 Februari yaitu Romawi Kuno menggelar tradisi nenek moyang yang berorientasi pada pesta seks, yaitu Festival Lupercalia sebagai hari kasih sayang.


Bahkan dalam beberapa media melampirkan sejumlah data tragedi pada perayaan Valentine’s Day. Contohnya, pada tahun 1981 di Dublin, Irlandia mengakibatkan 48 orang tewas dan 214 terluka dalam klub malam, bahkan pada tahun 1993 di Linxi, China juga mengakibatkan kebakaran dipusat perbelanjaan yang dekat dengan klub malam yang menyebabkan 79 orang tewas dan 51 terluka. Bahkan Tribunnews juga melampirkan bahwa penjualan alat kontrasepsi mencapai 25% penjualan pada tanggal perayaan tersebut.


Pada dasarnya, hal ini Valentine’s Day sengaja menciptakan ilusi untuk mengenyampingkan esensi emosional seseorang untuk menelisik secara mendasar tentang bagaimana sebuah kata yang dirayakan mampu menghegemoni tindakan dan emosi seseorang. Hal ini menurut pandangan Romantisisme seperti Rousseau mengatakan dalam filosofinya bahwa esensi hidup manusia adalah mempertimbangkan nilai-nilai dasar sebagai bentuk pemberontakan terhadap etika dan estetika yang berlaku sebagai standar kehidupan.


Kaum Romantik melihat bahwa manusia itu diciptakan dengan tindakan dan perasaan emosi secara bebas yang disebut dengan “jiwa dunia” sebagai bentuk seni yang berasal dari imajinasi alam bawah sadar mereka. Maka tak ayal jika slogan yang selalu dikumandangkan oleh mereka adalah “perasaan’ dan “kerinduan” sebagai bentuk kritikan pada akal agar kembali pada eksistensialnya memahami makna kehidupan yang berfokus pada nilai etika akal.

 

Valentine's Day Dalam Pengajian Kaum Romantik

 

Memaknai Valentine’s Day yang dikemas dalam bentuk kata dan tindakan cinta seharusnya berkaca pada para pemikir filosof romantik. Mereka beranggapan bahwa kaum romantik menyikapi persoalan cinta hanya untuk dipahami sebagai filosofi fundamental hidup. Kendatipun karakteristiknya bersandar pada seni dan sastra, akan tetapi ihwal akal selalu berperan terhadap etika untuk mengasosiasikan konsep akal sebagai pembebas kepribadian manusia dari belenggu konvensi dan moralitas sosial yang bertentangan.


Persoalan yang paling mendasar dalam menyikapi arti cinta itu dengan memaknai etika dasar sebagai eksitensialisme akal bahwa membentuk martabat seseorang untuk menjadi orang yang bertanggung jawab dan jujur. Hal ini cenderung tidak melihat sebuah kata yang sifatnya lahiriah akan tetapi membentuk batiniah manusia melalui akal sebagai penentu dalam mengambil atau melakukan sesuatu. Ibnu Miskawaih sebagai seorang filosof muslim juga beranggapan bahwa jika mengedapankan akal akan mengarahkan manusia pada pengetahuan dan kebenaran.


Memposisikan akal sebagai puncak penentu dalam memahami kata dan tindakan dari cinta merupakan etika logis sebagai bentuk relasi yang tidak didasari pada konvensi yang kosong, formal, melainkan pada penyatuan pikiran pada materi yang bernama kata cinta itu. Schelling juga beranggapan bahwa realitas hidup seseorang tentang cinta dan jiwa manusia merupakan ruh alamiah yang dapat mengantarkan mereka pada jalan batiniah yang menyimpan ketenangan hidup.


Mengenai itu, Valentine’s Day dapat dimaknai sebagai potensi kesadaran manusia untuk menuntut akal sebagai penentu eksistensi jalan batiniah manusia. Menyikapi persoalan cinta yang selaras dengan etika adalah penentuan pembentukan estetika moralitas manusia. Selain itu, nilai tersebut seharusnya mampu melahirkan pengetahuan dan mengantarkan pada ketenangan batin manusia.



Penulis: Darby Marhaen (Penikmat Receh)

Iklan

iklan